Abdul Qodir al Jaelani (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al Jaelani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani atau juga al Jiliydan. Biografi beliau dimuat dalam Kitab الذيل على طبق الحنابلة Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Masa Muda
2 Murid-Murid
3 Perkataan Ulama tentang Beliau
4 Tentang Karamahnya
5 Karya
6 Beberapa Ajaran Beliau
7 Awal Kemasyhuran
8 Beberapa Kejadian Penting
9 Hubungan Guru dan Murid
10 Lain-Lain
11 Pranala luar
12 Referensi
[sunting] Masa Muda
Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra’ dan juga Abu Sa’ad al Muharrimi. Belaiu menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.
[sunting] Murid-Murid
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal al Mughni.
[sunting] Perkataan Ulama tentang Beliau
Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin Nubala XX/442).
Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”
Beliau adalah seorang yang berilmu, beraqidah Ahlu Sunnah, dan mengikuti jalan Salaf al Shalih. Belaiau dikenal pula banyak memiliki karamah. Tetapi, banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tariqah (tarekat/jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui dari pendapat Imam Ibnu Rajab.
[sunting] Tentang Karamahnya
Syeikh Abdul Qadir al Jaelani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi, ada seorang yang bernama al Muqri’ Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).
"Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."
Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.).
[sunting] Karya
Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah."
Karya beliau, antara lain :
1. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
2. Futuhul Ghaib.
Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.
[sunting] Beberapa Ajaran Beliau
Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”
Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.
Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)
Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.
[sunting] Awal Kemasyhuran
Al-Jaba’i berkata bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani pernah berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum]].
Kemudian, Syaikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasulullah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, "anakku, mengapa engkau tidak berbicara?". Aku menjawab, "Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?". Beliau berkata, "buka mulutmu". Lalu, beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu, aku shalat dzuhur dan duduk serta mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, "buka mulutmu". Beliau lalu meniup 6 kali ke dalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada RasuluLlah SAW. Kemudian, aku berkata, "Pikiran, sang penyelam yang mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat”. Beliau kemudian menyitir, "Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria dapat membunuh dirinya dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis."
Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir al Jaelani berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.
Aku pun menbuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.
[sunting] Beberapa Kejadian Penting
Suatu ketika, saat aku berceramah aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. "Apa ini dan ada apa?" tanyaku. "Rasulullah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat" jawab sebuah suara. Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu, aku melihat RasuLullah SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, "Wahai Abdul Qadir". Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasulullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Beliau meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. "Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW?" tanyaku kepadanya. "Sebagai rasa hormatku kepada Rasulullah SAW" jawab beliau.
Rasulullah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. "apa ini?" tanyaku. "Ini" jawab Rasulullah, "adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian". Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah.
Saat Khidir as. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, "Engkau tidak akan sabar kepadaku", aku akan berkata kepadamu, "Engkau tidak akan sabar kepadaku". "Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”
Al-Khattab pelayan Syaikh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas al Khidir as lewat dan aku pun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.
[sunting] Hubungan Guru dan Murid
Guru dan teladan kita Syaikh Abdul Qadir al Jilli berkata, ”Seorang Syaikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.
3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
6. Dua karakter dari Ali yaitu aalim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan:
Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syaikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.
Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Syaikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syaikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syaikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.
Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang syaikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. Selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemahlembutan dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang murid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits Rasulullah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.
Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi-Nya. Rasulullah berkata, "Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)". Kemudian, Ali ra. kembali berkata, "Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir". Rasulullah berkata, "Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan 'Allah', 'Allah'. "Bagaimana aku berzikir?" tanya Ali. Rasulullah bersabda, "Dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula". Lalu, Rasulullah berkata, “Laa ilaaha illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama seperti yang Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut.
Syaikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut”.
Karena itulah Syaikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).
[sunting] Lain-Lain
Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah. "Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya disamping (menyembah ) Allah. ( QS. Al-Jin : 18 )"
Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah. Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.
Syeikh Abdul Qadir Jaelani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.
Senin, 27 April 2009
Diposting oleh xammpp di 21.35 0 komentar
Sifat Wajib Tulisan Arab Maksud Sifat Sifat Mustahil Tulisan Arab Maksud
Wujud ﻭﺟﻮﺩ Ada Nafsiah Adam ﻋﺪﻡ Tiada
Qidam ﻗﺪﻡ Sedia Salbiah Haduth ﺣﺪﻭﺙ Baharu
Baqa ﺑﻘﺎﺀ Kekal Salbiah Fana ﻓﻨﺎﺀ Akan binasa
Mukhalafatuhu lilhawadith ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Bersalahan Allah Ta'ala dengan segala yang baharu Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ Menyamai atau bersamaan bagi-Nya dengan suatu yang baru
Qiamuhu binafsih ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ Berdiri-Nya dengan sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ Berdiri-Nya dengan yang lain
Wahdaniat ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ Esa Allah Ta'ala pada dzat,pada sifat dan pada perbuatan Salbiah Ta'addud ﺗﻌﺪﺩ Berbilang-bilang
Qudrat ﻗﺪﺭﺓ Berkuasa Ma'ani Ajzun ﻋﺟﺰ Lemah
Iradat ﺇﺭﺍﺩﺓ Berkehendak menentukan Ma'ani Karahah ﻛﺮﺍﻫﻪ Benci iaitu tidak menentukan
Ilmu ﻋﻠﻢ Mengetahui Ma'ani Jahlun ﺟﻬﻞ Bodoh
Hayat ﺣﻴﺎﺓ Hidup Ma'ani Al-Maut ﺍﻟﻤﻮﺕ Mati
Sama' ﺳﻤﻊ Mendengar Ma'ani As-Summu ﺍﻟﺻﻢ Pekak
Basar ﺑﺼﺮ Melihat Ma'ani Al-Umyu ﺍﻟﻌﻤﻲ Buta
Kalam ﻛﻼ ﻡ Berkata-kata Ma'ani Al-Bukmu ﺍﻟﺑﻜﻢ Bisu
Kaunuhu qaadiran ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ Keadaan-Nya yang berkuasa Ma'nawiyah Kaunuhu ajizan ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ Keadaan-Nya yang lemah
Kaunuhu muriidan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma'nawiyah Kaunuhu kaarihan ﻛﻮﻧﻪ ﻛﺎﺭﻫﺎ Keadaan-Nya yang benci iaitu tidak menentukan
Kaunuhu 'aliman ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ Keadaan-Nya yang mengetahui Ma'nawiyah Kaunuhu jahilan ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ Keadaan-Nya yang bodoh
Kaunuhu hayyan ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ Keadaan-Nya yang hidup Ma'nawiyah Kaunuhu mayitan ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ Keadaan-Nya yang mati
Kaunuhu sami'an ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ Keadaan-Nya yang mendengar Ma'nawiyah Kaunuhu asamma ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ Keadaan-Nya yang pekak
Kaunuhu basiiran ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ Keadaan-Nya yang melihat Ma'nawiyah Kaunuhu a'maa ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ Keadaan-Nya yang buta
Kaunuhu mutakalliman ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ Keadaan-Nya yang berkata-kata Ma'nawiyah Kaunuhu abkam ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ Keadaan-Nya yang
Dua puluh yang tertera di atas yang wajib bagi Allah terkandung di dalam dua sifat kesempurnaan. Sifat tersebut adalah:
• Istigna' ( ﺇﺳﺘﻐﻨﺎﺀ )
• Kaya Allah daripada sekelian yang lain daripada-Nya iaitu tidak berkehendak ia kepada sesuatu. Maksudnya, Allah tidak mengkehendaki yang lain menjadikan-Nya dan tidak berkehendakkan tempat berdiri bagi zat-Nya. Contohnya, Allah tidak memerlukan dan tidak mengkehendaki malaikat untuk menciptakan Arasy.
• Maka, Maha suci Tuhan daripada tujuan pada sekelian perbuatan dan hukum-hukumnya dan tidak wajib bagi-Nya membuat sesuatu datau meninggalkan sesuatu.
• Sifatnya: wujud, qidam, baqa', mukhalafatuhu lilhawadith, qiamuhu binafsih, sama', basar, kalam, kaunuhu sami'an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman.
• Iftiqar ( ﺇﻓﺘﻘﺎﺭ )
• Yang lain berkehendakkan sesuatu daripada Allah iaitu yang lain berkehendakkan daripada Allah untuk menjadikan dan menentukan mereka dengan perkara yang harus. Contohnya, manusia memohon kepada Allah melancarkan hidupnya.
• Sifatnya: wahdaniat, qudrat, iradat, ilmu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.
Diposting oleh xammpp di 21.31 0 komentar
TANYA JAWAB TAUHID
Download BlackJack FREE! USD360 Free
Tauhid > Topics
--------------------------------------------------------------------------------
Subject: Tauhid4-Sifat Allah
Replies: 21 Views: 2858
* -> ->l
awam 1/12/2007 - 2:54:40
Adapun sifat yang wajib bagi Allah Taala itu Duapuluh (20) Sifat, dan yang mustahil Duapuluh (20) Sifat dan yang harus itu Satu (1) Sifat sahaja. *
awam 1/12/2007 - 2:57:24
Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan enam (6) sifat, 1-Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud. 2-Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhubinafsihi, Wahdaniat. 3-Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam. 4-Sifat Ma’nawiah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun, Muttaqalimuun. 5-Sifat Istighna, yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun, Muttakallimun. 6-Sifat Iftiqar, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Qodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Wahdaniah. Sifat yang ke 5 dan 6 adalah Sifat Ketuhanan yang menghimpunkan Nafi dan Isbat pada sifat2 sebelumnya. *
---
awam 1/12/2007 - 2:58:00
Bahagian pertama sifat Nafsiyah: Wujud, artinya ada, yang ada itu Zat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah ada alam ini, alam ini jadilah dengan sendirinya. Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu, maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur serta tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an: -Allahu kholiqu kullu syai’in-, artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah, Ada itulah diriNya haq Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruhu, artinya, sifat inilah Zat Haq Ta’ala, tiada Dia lain daripadaNya yakni -Sifat pada lafadz Zat pada makna. Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiyalhalulwajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya, hal yang wajib bagi Zat selama ada Zat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni: 1-AdaNya itu tiada karena jadi oleh sesuatu. 2-Tiada Dia terjadi dengan sendiriNya. 3-Tiada Dia menjadikan diriNya sendiri. 4-Tiada Dia berjadi-jadian.Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena Wujud menunjukkan sebenar-benar diriNya Zat, tiada lainNya dan tiada boleh dipisahkan Wujud itu lain daripada Zat seperti sifat yang lain-lain. *
---
awam 1/12/2007 - 2:58:40
Adapun Wujud itu tiga bahagi:1-Wujud Haqiqi, yaitu Zat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadim dan Baqa’, inilah wujud sebenarnya. 2-Wujud Mujazi, yaitu zat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala. 3-Wujud ‘Ardy, yaitu zat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursyi dan lain-lain. Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi: 1-Mawujud dalam ‘alam syahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain. 2-Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain. Adapun segala yang Mawujud itu lima tempat: 1-Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal. 2-Mawujud pada Ghorij yaitu ada kenyataan bekas. 3-Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi. 4-Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api.5-Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Dia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Sekarang kita masuk membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil: 1-Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan. 2-Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan. 3-Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan. 4-Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan. 5-Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan. *
---
awam 1/12/2007 - 2:59:13
Bahagian kedua sifat Salbiyah: Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: -wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla-, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat: 1-QIDAM, artinya Sedia, Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan Dia baharu karena jikalau Dia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Dia Wajibalwujud, sekarang telah terdahulu Wajibalwujud bagiNya maka menerimalah aqal kita wajib bagiNya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: -huwal awwalu-, artinya Dia juga yang awal. Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara: 1-Qadim Hanafi, yaitu Zat Allah Ta’ala. 2-Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala. 3-Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak. 4-Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun. *
---
awam 1/12/2007 - 3:03:45
2-BAQA’ artinya Kekal, Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia binasa, jikalau Dia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Dia baharu tiadalah Dia bersifat Qadim, sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal Zat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. Adapun yang Kekal itu dua bahagi:1-Kekal Hakiki, yaitu Zat dan sifat Allah Ta’ala.2-Kekal Ardi, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebagian daripada mumkin, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardi, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi. *
---
awam 1/12/2007 - 3:04:30
3-MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan Zat dan Sifat dan Af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu yaitu tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Dia bersifat Qadim dan Baqa’, sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’ maka menerimalah akal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: laisa kamislihi sai’in wahuwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Dia mendengar dan melihat. Adapun bersalahan Zat Allah Ta’ala dengan Zat yang baharu karena Zat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘ardi dan tiada dapat dijadikan dan tiada bertempat atau jihat dan tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan aum ta'luqnya seperti Sami’ Allah Ta’ala ta'luq pada segala yang mawujud. Adapun sifat yang baharu itu tiada Qadim dan tiada aum ta'luqnya tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar Dia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada Dia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala. Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia. Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah. *
---
awam 1/12/2007 - 3:05:20
4-QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya. Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendirinya, karena Dia Zat bukan Sifat jikalau Dia sifat berkehendak kepada tempat berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia karena Dia Qadim. Jikalau berkehendak Dia kepada yang menjadikan Dia maka jadilah Dia baharu, apabila Dia baharu tiadalah Dia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits, sekarang menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya Allayakunu ko’iman binafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: -Innallaha laghaniyyun ‘anil ‘alamiin-, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam. Adapun segala yang Mawujud yang berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan Dia itu empat bahagi:1-Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri yaitu Zat Allah Ta’ala. 2-Berdiri pada Zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia yaitu sifat Allah Ta’ala. 3-Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu. 4-Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘arad (sifat dan keadaan) yang baharu. *
---
awam 1/12/2007 - 3:07:20
5-WAHDANIAH, artinya Esa. Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil dan kammumfasil pada Zat, pada Sifat dan pada Af’al. Kammuttasil artinya berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung. Kammumfasil artinya bercerai-cerai banyak yang serupa. Lawannya Ayyakunu wahidan, artinya tiada Dia esa yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Dia Esa, karena jikalau tiada Dia Esa tiadalah ada alam ini karena banyak yang memberi bekas seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan seperti kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar, karena tiga yang memberi bekas tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya, umpamanya disebelah barat tentu pula tuhan yang lain menidakkannya menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qulhuwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa Zat dan Esa sifat dan Esa Af’al. Adapun Wahdaniah itu pada Zat menafikan dua perkara:1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan Zat Allah Ta’ala itu berdarah berdaging dan bertulang urat atau dikatakan Zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa dikatakan ada zat yang lain seperti Zat Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu, maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatullizzati, yakni Esa Zat Allah Ta’ala. Adapun Wahdaniah pada sifat itu menafikan dua perkara: 1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu berbilang-bilang sifat Allah Ta’ala. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatussifati, yakni Esa sifat Allah Ta’ala... *
---
awam 1/12/2007 - 3:08:23
Adapun Wahdaniah pada Af’al itu menafikan dua perkara: 1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu perbuatan Allah Ta’ala. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu, maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull Af’alu, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala. *
---
awam 1/12/2007 - 3:21:23
Bahagian yang ketiga sifat Ma’ani. Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu mawujuudatun qo’imatun bimawujuudatun aujabatlahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka mewajibkan suatu hukum yaitu Ma’nawiyah. Sifat ini merupakan sifat yang didapat daripada menyaksikan bekas sifat Allah Ta'ala pada diri. Dan membandingkan dengan kenyataan ('Ain) antara yang ada pada diri yang mustahil tidak ada pada Allah Ta'ala dengan Sifat Allah Ta'ala yang diluruskan (DISUCIKAN) dengan sifat Salbiyah pada Ketuhanan, yakni yang menafikan sesuatu yang tidak patut dan tidak layak berdiri pada SifatNya. *
---
* -> ->l
--------------------------------------------------------------------------------
This topic is locked.
Tauhid Forum
--------------------------------------------------------------------------------
Tauhid (8)
Download Roulette Free-USD360 Credit!
Top (5)
Groups (9)
Prodigits (0)
Diposting oleh xammpp di 21.26 0 komentar